Kamis, 28 Juni 2018


PENGALAMAN PERTAMA MENGENAL DAN MEMBACA BUKU

Buku adalah jendela ilmu itulah slogan pertama yang saya tahu tentang buku saat saya duduk di bangku sekolah dasar. Tak begitu banyak buku-buku yang saya baca saat itu. Meski saya sering ke perpustakaan sekolah, tapi saya pilih-pilih mana buku yang nanti akan saya baca . flashback mengenai perpustakaan sekolah dasar , jail menjail tentu tak luput dari list-list pada saat itu , memboking buku dengan cara menyimpannya di susunan rak yang berbeda adalah salah satu trik yang cukup jitu di masanya . Apakah berhasil ? tersenyum nya lah jika satu kelas anda pun tidak memakai trik itu.

Meninggalkan jejak di sampul nya dengan meuliskan tanda-tanda maupun inisial masih belum menjamin buku itu tidak bisa dimiliki atau pun dibaca oleh orang lain, ternyata membuat saya sadar mengapa pada saat itu trik ini tidak begitu efektif dan bahkan tidak berhasil dijaman nya (sekolah dasar) ternyata satu-satu nya cara adalah dengan mau menerima nya ,membaca nya dan meresapi nya tanpa harus muluk-muluk diberikan tanda tapi ujung-ujung nya tidak juga kita baca. Jadi jangan heran dijaman sekarang, yang lagi sibuk-sibuk nya menebar potas-potas perhatian kepada si Doi ,membuat  kode-kodean ala sherlock holmes di backer street yang harus si Doi mengerti tapi ujung-ujung nya hanya menjadi Teman?! Ayo perlahan bangkit. Duka perlu dipelihara namun cukup seadanya agar kita tidak berhenti berkarya ,agar kita tidak lupa menjadi manusia.

Kalau di tanya termotivasi / di motivasi ? mungkin lebih ke terpaksa/coba-coba saja sih. Tidak sedikit buku yang coba mama saya berikan, agar anak nya ini kelak paham untuk berliterat dan bersahabat dengan Aksara . tapi apa daya saking banyak nya buku itu sampai-sampai tak ada yang melekat di hati. Jadi teringat dengan istilah orang-orang bijak ,apa yang di mulai dari hati kelak proses dan hasil nya pasti akan sejalan denga ekspektasi.

Saya hidup di keluarga degan latar belakang spiritual yang kuat. Kedua orang tua saya majelis di Gereja (Kristen Protestan) tidak begitu megherankan begitu banyak nya buku-buku referensi renungan Rohani di rumah saya (Spirit,Saat teduh,Air hidup). Jika kembali menilik mengenai terpaksa & coba-coba, perlahan disinilah kedua Orang Tua saya mulai menerapkan kiat-kiat Klasik nya, satu per satu buku rohani mulai di promosikan, tak lupa beserta include image agar menambah daya Tarik minat anak nya pada saat itu.

Mulailah perjalanan saya menyusuri Aksara & Diksi menjadi jembatannya Plus nilai spiritual .terkesan haus ? mungkin hanya sekedar melepas dahaga, sapa menyapa sampul buku tanpa ada feedback dari isi. Itulah warna awal dari mencoba, tetapi ternyata jika sudah diniat kan coba-coba dapat menjadi hal yag candu. Please berhati-hatilah ini lebih dari Narkotika, berkepanjagan ? bahkan bisa turun-temurun.

“Babi Ngesot” Karangan Raditya Dika yang menjadi pencapaian prestisius dalam konteks Novel pertama saya yang bisa diselesaikan (dalam membaca) Cinta memag seperti itu bisa datang di mana saja , sama halnya dengan novel ini.Tidak di rencanakan , kebetulan mungkin ? tetapi jodoh adalah kata yang paling tepat. Ingat novel loh yah , bukan lika-liku petualangan cinta anda.

Tanpa adanya basa-basi intens pun semakin tak terhankan dan bergejolak, genre-genre ringan mulai di jajal seperti Tere liye, Raditya dika, Boy Chandra, Dewi Lestari dll. Meskipun tidak pernah lepas dari Namanya romansa bagi saya itu adalah doping tersendiri bagaimana kita bebas menjelajah di imajinasi kita lewat bias romantisme . tapi jangan Fatamorgana teruslah ,hhehe. Sekali-kali terapkan dengan memahami , mengaplikasikan nya itu baru Namanya literat.

Dengan modal-modal yang sudah perlahan namun pasti genre-genre berat seperti Liberalysm, madilog, Dr upadi mulai dijajal . seperti kata sudjiwo tedjo : setiap jalan menuju nikah adalah jalan yang indah dan setiap jalan yang indah adalah jalan yang tak masuk akal. Seperti ini lah yang saya alami penuh dinamika untuk lebih memahaminya tidak hanya sekedar per halaman sekali baca langsung mengerti , sama hal nya perasaan ini kepada Mu meskipun berkali-kali ku tunjukkan tetapi tak lantas langsung terbalaskan . Cukup tau sesal dalam diri , mau nya  apa coba ?

Kira-kira begitulah 2 ilustrasi keadaan yang saya hadapi bosan, jenuh ? tetapi lagi-lagi semesta menunjukkan candaan nya , ada saja cara - cara sampul buku itu menunjukkan pesonanya tak pelak tatapan ini seakan - akan terhipnotis untuk mejamahnya lagi dalam beberapa waktu di dunia ku. Secara pribadi waktu mulai membuat saya mengerti bahwa buku ini bukan sekedar ada di saat dibutuhkan saja , melainkan wajib menjadi kebutuhan. Mencoba untuk selalu menghadirkan buku di setiap sudut-sudut rumah , berupaya untuk selalu menyediakan tempat bagi buku di saat bepergian ,  menuliskan intisari(ringkasan) dari buku yang telah di baca, dengan adanya adaptasi atau kebiasaan kecil yang selalu di tanamkan ini lah harapan bahwa pengenalan tentang membaca buku ini bukan sampai di saya saja bagaimana bisa ikut menjangkau adik dan bahkan keluarga-keluarga yang lain.

Tukar menukar pemikiran menjadi keseruan sendiri ketika menemukan yang se-kompas, pembahasan yang tak ada ujung, ilmu-ilmu baru, nostalgia-nostalgia referensi semua nya tidak akan berhenti jika matahari tak menyapa. Kegiatan yang bernuansakan buku pun tak luput dari langkah ini , mata dan jari seakan tak kenal Lelah berkelana di dunia yang serba cepat akan teknologi maupun inovasi ini hanya untuk memuaskan hasrat baca. Tapi tak sampai membuat kami harus masuk dalam gelembung informasi yang terisolasi, beralaskan kerinduan akan  sampul dan isi sehingga timbul lah kemauan bahwa bukan Cuma untuk meliteratkan diri sendiri tapi bagaimana value nya smpai ke masyarakat.

Layak nya pohon yang tumbuh tinggi,namun daunnya tak bisa ayomi ada pohon yang rendah,namun pohonnya lebat dan rindang tuk berteduh. Ada manusia yang hanya mengejar prestasi tinggi, namun kurang bermanfaat Ada yang prestasinya biasa saja , namun sangat bermanfaat bagi sekitar nya. Hadir di situasi yang sederhana di masing-masing orang , bukan untuk memberi harapan palsu melainkan membantu menyalurkan harapan-harapan buku pada generasi muda di era milenial ini untuk semakin yakin bahwa buku adalah jendela ilmu. sugesti fana akan buku seperti halaman tebal maupun tipis, kertas yag menguning, sampul yang mulai berkeriput dan usang. lantas jangan menjadikan mu untuk membuat alasan dan menyepelekan buku .

Lebih jauh lagi, membaca buku dalam pengetahuan dan pemahaman saya, juga bisa membuat otak saya selalu aktif dan sehat. Sebuah studi yang dilakukan oleh David Snowdown pada sekelompok suster biarawati dari School of Notre Dame mengungkapkan, bahwa umumnya usia hidup mereka berkisar antara 80-an sampai 90-an tahun, namun mereka jarang menderita penyakit-penyakit yang berhubungan dengan penurunan kinerja otak seperti Dementia dan Alzheimer. Hal ini terjadi, rupanya karena mereka sangat aktif sekali mengasah otak dan intelektualitas mereka, melalui kegiatan mengisi TTS, membaca atau berdiskusi. Para sahabat terkasih, membaca buku bagi saya, dari sebuah kehausan akan ilmu dan pengetahuan, menjadi sebuah alternatif hiburan, bergerak menjadi sebuah kebiasaan, lalu menjadi sebuah kebutuhan pribadi dan keluarga.



SALAM LITERASI 😊