PENGALAMAN PERTAMA
MENGENAL DAN MEMBACA BUKU
Buku adalah jendela ilmu itulah slogan
pertama yang saya tahu tentang buku saat saya duduk di bangku sekolah dasar.
Tak begitu banyak buku-buku yang saya baca saat itu. Meski saya sering ke
perpustakaan sekolah, tapi saya pilih-pilih mana buku yang nanti akan saya baca
. flashback mengenai perpustakaan sekolah dasar , jail menjail tentu tak luput
dari list-list pada saat itu , memboking buku dengan cara menyimpannya di
susunan rak yang berbeda adalah salah satu trik yang cukup jitu di masanya .
Apakah berhasil ? tersenyum nya lah jika satu kelas anda pun tidak memakai trik
itu.
Meninggalkan jejak di sampul nya dengan
meuliskan tanda-tanda maupun inisial masih belum menjamin buku itu tidak bisa
dimiliki atau pun dibaca oleh orang lain, ternyata membuat saya sadar mengapa
pada saat itu trik ini tidak begitu efektif dan bahkan tidak berhasil dijaman
nya (sekolah dasar) ternyata satu-satu nya cara adalah dengan mau menerima nya
,membaca nya dan meresapi nya tanpa harus muluk-muluk diberikan tanda tapi
ujung-ujung nya tidak juga kita baca. Jadi jangan heran dijaman sekarang, yang
lagi sibuk-sibuk nya menebar potas-potas perhatian kepada si Doi ,membuat kode-kodean ala sherlock holmes di backer
street yang harus si Doi mengerti tapi ujung-ujung nya hanya menjadi Teman?!
Ayo perlahan bangkit. Duka perlu dipelihara namun cukup seadanya agar kita
tidak berhenti berkarya ,agar kita tidak lupa menjadi manusia.
Kalau di tanya termotivasi / di motivasi ?
mungkin lebih ke terpaksa/coba-coba saja sih. Tidak sedikit buku yang coba mama
saya berikan, agar anak nya ini kelak paham untuk berliterat dan bersahabat
dengan Aksara . tapi apa daya saking banyak nya buku itu sampai-sampai tak ada
yang melekat di hati. Jadi teringat dengan istilah orang-orang bijak ,apa yang
di mulai dari hati kelak proses dan hasil nya pasti akan sejalan denga
ekspektasi.
Saya hidup di keluarga degan latar belakang
spiritual yang kuat. Kedua orang tua saya majelis di Gereja (Kristen Protestan)
tidak begitu megherankan begitu banyak nya buku-buku referensi renungan Rohani
di rumah saya (Spirit,Saat teduh,Air hidup). Jika kembali menilik mengenai
terpaksa & coba-coba, perlahan disinilah kedua Orang Tua saya mulai
menerapkan kiat-kiat Klasik nya, satu per satu buku rohani mulai di promosikan,
tak lupa beserta include image agar menambah daya Tarik minat anak nya pada
saat itu.
Mulailah perjalanan saya menyusuri Aksara
& Diksi menjadi jembatannya Plus nilai spiritual .terkesan haus ? mungkin
hanya sekedar melepas dahaga, sapa menyapa sampul buku tanpa ada feedback dari
isi. Itulah warna awal dari mencoba, tetapi ternyata jika sudah diniat kan
coba-coba dapat menjadi hal yag candu. Please berhati-hatilah ini lebih dari
Narkotika, berkepanjagan ? bahkan bisa turun-temurun.
“Babi Ngesot” Karangan Raditya Dika yang
menjadi pencapaian prestisius dalam konteks Novel pertama saya yang bisa
diselesaikan (dalam membaca) Cinta memag seperti itu bisa datang di mana saja ,
sama halnya dengan novel ini.Tidak di rencanakan , kebetulan mungkin ? tetapi
jodoh adalah kata yang paling tepat. Ingat novel loh yah , bukan lika-liku
petualangan cinta anda.
Tanpa adanya basa-basi intens pun semakin tak
terhankan dan bergejolak, genre-genre ringan mulai di jajal seperti Tere liye,
Raditya dika, Boy Chandra, Dewi Lestari dll. Meskipun tidak pernah lepas dari
Namanya romansa bagi saya itu adalah doping tersendiri bagaimana kita bebas menjelajah
di imajinasi kita lewat bias romantisme . tapi jangan Fatamorgana teruslah
,hhehe. Sekali-kali terapkan dengan memahami , mengaplikasikan nya itu baru
Namanya literat.
Dengan modal-modal yang sudah perlahan namun
pasti genre-genre berat seperti Liberalysm, madilog, Dr upadi mulai dijajal .
seperti kata sudjiwo tedjo : setiap jalan menuju nikah adalah jalan yang indah
dan setiap jalan yang indah adalah jalan yang tak masuk akal. Seperti ini lah
yang saya alami penuh dinamika untuk lebih memahaminya tidak hanya sekedar per
halaman sekali baca langsung mengerti , sama hal nya perasaan ini kepada Mu
meskipun berkali-kali ku tunjukkan tetapi tak lantas langsung terbalaskan .
Cukup tau sesal dalam diri , mau nya apa
coba ?
Kira-kira begitulah 2 ilustrasi keadaan yang
saya hadapi bosan, jenuh ? tetapi lagi-lagi semesta menunjukkan candaan nya ,
ada saja cara - cara sampul buku itu menunjukkan pesonanya tak pelak tatapan
ini seakan - akan terhipnotis untuk mejamahnya lagi dalam beberapa waktu di
dunia ku. Secara pribadi waktu mulai membuat saya mengerti bahwa buku ini bukan
sekedar ada di saat dibutuhkan saja , melainkan wajib menjadi kebutuhan.
Mencoba untuk selalu menghadirkan buku di setiap sudut-sudut rumah , berupaya
untuk selalu menyediakan tempat bagi buku di saat bepergian , menuliskan intisari(ringkasan) dari buku yang
telah di baca, dengan adanya adaptasi atau kebiasaan kecil yang selalu di
tanamkan ini lah harapan bahwa pengenalan tentang membaca buku ini bukan sampai
di saya saja bagaimana bisa ikut menjangkau adik dan bahkan keluarga-keluarga
yang lain.
Tukar menukar pemikiran menjadi keseruan
sendiri ketika menemukan yang se-kompas, pembahasan yang tak ada ujung,
ilmu-ilmu baru, nostalgia-nostalgia referensi semua nya tidak akan berhenti
jika matahari tak menyapa. Kegiatan yang bernuansakan buku pun tak luput dari
langkah ini , mata dan jari seakan tak kenal Lelah berkelana di dunia yang
serba cepat akan teknologi maupun inovasi ini hanya untuk memuaskan hasrat baca.
Tapi tak sampai membuat kami harus masuk dalam gelembung informasi yang
terisolasi, beralaskan kerinduan akan sampul
dan isi sehingga timbul lah kemauan bahwa bukan Cuma untuk meliteratkan diri
sendiri tapi bagaimana value nya smpai ke masyarakat.
Layak nya pohon yang tumbuh tinggi,namun
daunnya tak bisa ayomi ada pohon yang rendah,namun pohonnya lebat dan rindang
tuk berteduh. Ada manusia yang hanya mengejar prestasi tinggi, namun kurang
bermanfaat Ada yang prestasinya biasa saja , namun sangat bermanfaat bagi
sekitar nya. Hadir di situasi yang sederhana di masing-masing orang , bukan
untuk memberi harapan palsu melainkan membantu menyalurkan harapan-harapan buku
pada generasi muda di era milenial ini untuk semakin yakin bahwa buku adalah
jendela ilmu. sugesti fana akan buku seperti halaman tebal maupun tipis, kertas
yag menguning, sampul yang mulai berkeriput dan usang. lantas jangan menjadikan
mu untuk membuat alasan dan menyepelekan buku .
Lebih jauh lagi, membaca buku dalam pengetahuan dan
pemahaman saya, juga bisa membuat otak saya selalu aktif dan sehat. Sebuah
studi yang dilakukan oleh David Snowdown pada sekelompok suster biarawati dari School of Notre Dame mengungkapkan,
bahwa umumnya usia hidup mereka berkisar antara 80-an sampai 90-an tahun, namun
mereka jarang menderita penyakit-penyakit yang berhubungan dengan penurunan
kinerja otak seperti Dementia dan Alzheimer. Hal ini terjadi, rupanya karena
mereka sangat aktif sekali mengasah otak dan intelektualitas mereka, melalui
kegiatan mengisi TTS, membaca atau berdiskusi. Para sahabat terkasih, membaca
buku bagi saya, dari sebuah kehausan akan ilmu dan pengetahuan, menjadi sebuah
alternatif hiburan, bergerak menjadi sebuah kebiasaan, lalu menjadi sebuah
kebutuhan pribadi dan keluarga.
SALAM LITERASI 😊